;
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Cerpen Cinta : Siklus Cintaku

Selasa, 19 Februari 2013

Cerpen Siklus Cintaku

Cerpen Siklus Cintaku


"Jo, jangan pergi Jo … Jangan seperti ini, kita bisa selesaikan semuanya dengan kepala dingin kan? Memang apa sih salahku Jo? Kenapa tiba – tiba kamu seperti ini? Kita baru pacaran selama 5 hari dan kamu seperti ini setelah 2 tahun penantianku?" Kini air mata tak dapat lagi terbendung di pelupuk mataku. Ia tumpah dengan sendirinya, mengalir deras bagai air terjun yang tiada hentinya. Aku pun tak mampu menatap matanya. Aku hanya mampu menarik tangannya untuk menahan kepergiannya. Aku berharap ia tak meninggalkanku, tapi pada kenyataannya ia tak sedikit pun melirik ke arahku. Ia melepaskan genggaman tanganku dan pergi menjauh dariku. Aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku terhempas di atas aspal jalan. Aku tak sanggup menahan diriku.

"Rean, Rean … Hei, kamu ngelamunin apa sih? Dan kenapa kamu menangis?" ucap Melly membuyarkan lamunanku. Aku sendiri pun tak sadar setitik air mata telah menetes dari mataku. "Gak, aku gak apa – apa, lupakan aja" "Pasti kamu inget Jo lagi ya ?? Udah lah Rean, jangan diinget lagi cowok gak tahu perasaan itu. Belum tentu juga dia inget kamu. Lagipula juga udah 2 tahun kamu lewati tanpa ada dia. Kenapa masih kamu inget aja sih dia?" "Iya sih Mel, tapi tetep aja aku gak bisa lupain dia dan kejadian itu. Rasa sakit masih ada sampai sekarang. Ya walaupun itu terjadi waktu aku kelas 3 SMP dan sekarang aku udah kelas 2 SMA, tapi tetep aja, aku belum bisa hapus dia dari benakku." "Come on Rean, please deh, jangan galau terus, dia juga udah beda sekolah denganmu. Udah deh ya, daripada kamu sedih gak jelas mending sekarang kita ke Shanty dan Netty. Pasti mereka udah nungguin kita di kantin." "Oke deh …" jawabku seraya beranjak dari tempat dudukku.

Aku, seorang Reany Caroline, cewek gendut yang duduk di kelas 2 SMA YPPI – 2 Surabaya. Kata banyak teman – teman sih aku pintar dalam segala hal. Pendidikan, olahraga, pergaulan, dan kekayaan. Tapi hanya 1 hal yang membuat semua itu hancur berantakan, percintaan. Aku rasa hanya 1 hal inilah yang tak bisa kukuasai. Di saat semua teman di sekelilingku dicintai dan mencintai pasangannya masing – masing, aku seorang diri jomblowati. Cinta pertamaku aku dapat saat aku duduk di SMP YPPI – 3 dengan lelaki bernama Jonny Nugraha. 2 tahun penantianku bersamanya kulalui dengan banyak masalah dengannya. Mulai dari bantuanku untuknya agar dapat berbaikan dengan pacarnya hingga pertengkaranku dengannya yang diakibatkan kesalahpahaman. Itu semua membuahkan hasil yang cukup memuaskan.
Di akhir masa sekolah, setelah aku melewati UNAS tahun 2011, tepat tanggal 16 April, dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku menerimanya dan akhirnya kami berpacaran. Tapi hanya 5 hari berselang ia tiba – tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Hatiku hancur seketika. Penantian dan ketabahanku sia – sia. Hingga kini 2 tahun telah berlalu, aku tak pernah sedetikpun melupakan hal itu. Walaupun ke – tiga sahabatku di SMA ini, Melly, Shanty, dan Netty telah membantuku untuk mencari cowok pengganti Jo, tapi itu semua percuma saja. Aku tetap saja teringat dengan kenangan masa laluku dengan Jo.

Terik matahari yang menembus jendela kamarku membuatku terbangun dari tidur lelapku. Aku pun langsung mencari hanphoneku dan mengecek pesan masuk. Aku tercengang melihat nama Jo ada di pesan masukku. Hatiku berdebar penasaran dengan apa isi dari pesan itu. Segera kubuka pesan darinya.
Sender : Jo
"Reany Caroline? Kamu masih ingat denganku?"
To : Jo
"Ya, tentu aja aku ingat kamu. Ada apa Jo?"
Sender : Jo
"Rean, aku mau tanya, apa kamu kenal dengan cewek yang bernama Shanty Rennata?"
Aku bingung, kenapa dia tiba – tiba menanyakan Shanty? Apa dia kenal dengan Shanty? Atau apa?
To : Jo
"Ya, dia sahabatku, kenapa Jo? Kamu kenal?"
Sender : Jo
"Aku cukup menyukainya …"
Seketika itu juga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Hati ini hancur bagai kaca yang dilempari palu. Mengapa ini semua bisa terjadi? Di saat aku tersanjung dengan pesan darinya, justru ini yang ia katakan padaku? Tanganku pun tak sanggup untuk menggenggam handphone dan ia pun terlepas dari tanganku. Tubuhku terjatuh, hatiku tenggelam dalam kekelaman yang terdalam. Aku tak mampu melakukan apapun. Bipp bipp bipp … Terdengar suara penanda pesan masuk di hanphoneku dan aku pun membukanya.
Sender : Jo
"Tahun ini untuk kenaikan menuju kelas 3 aku akan pindah ke sekolahmu. Siapkan dirimu dan aku harap bantuanmu agar aku bisa berpacaran dengannya … Kamu tidak keberatan bukan? ;)"
Aku tak mampu lagi untuk berfikir. Seharusnya aku senang kalau Jonny pindah ke sekolahku. Itu artinya aku bisa berada dekat dengannya, tapi kenapa harus dengan situasi seperti ini? Kenapa Jonny harus menyukai sahabatku sendiri?
To : Jo
"Oke."
Hanya 1 kata itu yang dapat kubalas untuk pesan dari Jo …

To : Melly, Shanty, Netty
"Guys, kumpul di tempat biasa sekarang ya. Gak usah dibales, langsung kumpul aja, URGENT, thanks."
Aku pun segera menuju Cafe Rose tempat aku dengan 3 sahabatku berkumpul. Satu persatu dari mereka pun berdatangan. Setelah mereka semua berkumpul aku memberitahukan kejadian yang kualami, mengenai Jo yang menyukai Shanty dan kepindahan Jo ke sekolah kami dalam waktu dekat.
"Apa sih maksudnya sih Jo itu? Setelah kamu dibuat sakit hati sekarang dia berusaha mendekati sahabatmu sendiri? Apa perlu kita labrak aja?" "Jangan menggunakan cara seperti itu Net, percuma. Jo bukan orang yang mau melawan cewek. Dengan begitu aku pasti dinilai jelek olehnya." "Tapi Rean, dia gak bisa seperti ini. Lagipula Shanty juga gak mungkin mau dengan Jo kan?" Aku menatap mata Shanty dan aku merasa curiga dengannya. Tingkah lakunya agak aneh dan mencurigakan. Ada sebercak rasa tak nyaman merasukiku. Tapi aku tak ingin berpikiran buruk tentang sahabatku sendiri. Ah, sudahlah …
"Hoi Shan …" ucap Melly seraya meninju kecil lengan Shanty. "Emm, iya iya aku juga gak mungkin mau lah dengan Jo." "Tuh kan Rean, udah kamu tenang aja." "Oke oke, thanks ya guys."

Saat yang kutunggu telah datang. Di hari pertama tahun ajaran baru 2013 – 2014 ini aku memulai pagiku dengan mempersiapkan segala keperluan untuk MOS. "Mel, ayo kita kumpul di lapangan. Sekalian bilang ke anak – anak baru ya supaya berkumpul di lapangan." "Oke."

Aku menatap seluruh siswa – siswi yang berbaris dan alangkah terkejutnya aku saat melihat Jo ada di tengah – tengah barisan, lengkap dengan atribut seragam sekolahku. Jantungku berdegup sangat kencang. Ternyata yang dikatakan oleh Jo bahwa ia akan pindah ke sekolahku demi Shanty itu benar adanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku mencoba meredam gejolak hati ini. Aku harus kuat, aku harus bisa!!! Setelah aku memberikan sepatah dua patah kata, aku pun melanjutkan MOS dan memberi pengarahan pada anak – anak baru.

4 bulan berselang setelah masuknya Jonny di sekolah ini. Anehnya aku dan Jo layaknya orang yang tidak pernah kenal satu sama lain. Cukup miris bagiku saat aku tahu ternyata Jo sekelas dengan Shanty di XII IPS 1, Melly sekelas dengan Netty di kelas XII IPS 2, sementara aku sendiri memang terpencil sendiri di kelas XII IPA. Dan banyak gosip simpang siur yang mengatakan bahwa Shanty mengkhianatiku.
Aku tidak mau begitu saja percaya dengan apa yang orang lain katakan. Aku ingin lebih mempercayai sahabatku sendiri. Tapi bukti – bukti yang ada cenderung menunjukkan bahwa Shanty memang mengkhianatiku, apalagi memang setelah menginjak kelas XII ini aku, Melly, Shanty, dan Netty sibuk dengan aktifitas masing – masing. Jadi aku masih belum bisa memastikan kebenaran gosip itu.

"Rean, ke kantin yuk …" ajak Virnie sambil menyeringai. Aku heran, sejak kapan dia dekat denganku, sampai – sampai dia mengajakku ke kantin. Secara dulu aku, Melly, Shanty dan Netty pernah bertengkar hebat di kelas X. Tapi aku juga tak kuasa menolak. Jadi ya aku ikuti saja. "Baiklah." Sesampainya di kantin yang bersebelahan dengan lapangan, aku lihat kerumunan anak berkumpul di tepi lapangan. Aku heran ada apa. "Rean, kamu mau lihat ke lapangan?" "Iya deh Vir, aku mau lihat." "Ya udah, aku tinggal ke perpustakaan dulu ya." "Sip."
"Shan, ditengah lapangan ini, di depan semua banyak anak, aku mau kamu tahu bahwa aku mencintai kamu. Apa kamu mau menjadi pacarku?" Aku tak mampu lagi menopang tubuhku. Rasanya aku ingin pingsan saat ini juga. Aku melihat Jo menembak Shanty di depan mataku sendiri. Aku sepertinya akan menggila karena ini semua. Aku bahkan tak mampu merasakan kakiku. Lemah, tak berdaya, rapuh.
"Ya, aku mau." Dan jawaban itulah yang semakin membuatku hancur berkeping – keping. Air mata yang sedari tadi terbendung di pelupuk mataku, kini mengalir perlahan. Sesegera mungkin aku meninggalkan lapangan. Aku berlari sekuat tenaga menuju toilet. Aku tak ingin seorang pun melihat kelemahanku. Tak boleh ada seorang pun yang tahu. Apalagi statusku sebagai Ketua OSIS. Aku keluarkan semua kesedihanku di toilet dan setelah bel berdering aku pun kembali ke ruang kelas. Begitu banyak mata yang menatap ke arahku tapi aku berusaha tenang. Aku harap aku mampu menahan kesedihanku hingga sesampainya aku di rumah.

"Anak – anak, sesuai janji Ibu tanggal 28 Oktober nanti kita akan mengadakan kegiatan GHL (Gunung Hutan Laut) yang digabung dengan retreat. Kegiatan ini diadakan selama 3 hari 2 malam di PPLH Seloliman." Awalnya aku senang sekali karena ada kegiatan ini, tapi setelah mendengar lokasi tempat kegiatan, semuanya berubah. Aku pun teringat kembali dengan kenangan masa SMP yang kulewati dengan Jo. Oh sial, umpatku dalam hati. Teetttttttt. Bel tanda pulang pun berbunyi dan hari ini aku harus pulang sendirian karena papa dinas ke luar kota. Huft, sialnya hari ini …
"Hai cewek." "Eh Sony, hai juga. Ngapain kamu disini?" "Ya mau pulang dong, ini lagi nunggu bemo. Kamu sendiri?" "Sama dong, hehehe." "Pulang bareng yuk, rumahku kan sejalan sama rumahmu, nanti aku antar deh, gimana?" "Boleh …" Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Sony. Aku tidak menyangka, selama ini aku tidak pernah memperhatikan Sony, ternyata dia baik juga.

Hari ini aku akan berangkat untuk GHL. Aku mulai memasuki bis bersama teman – temanku. 2 jam perjalanan ke PPLH Seloliman dan akhirnya kami sampai. Suasana di sini tidak berubah. Hanya saja situasinya yang berbeda. Tak sengaja aku melihat Shanty bermesraan dengan Jo. Malam harinya ada renungan malam dan aku duduk di tempat dimana dulu aku duduk berdua bersama Jo untuk renungan malam juga, tapi kini aku ditemani Sony. Aku hampir saja meneteskan air mata. Tapi aku menahannya. Jo sempat melirikku, namun aku hanya mampu menatap matanya sebelum ia kembali bermesraan dengan Shanty.

Setelah renungan malam aku berjalan – jalan dengan Sony. Kami berkeliling di tempat yang pernah aku lalui beberapa tahun yang lalu. Di tengah perjalanan aku melihat Jo dan Shanty bermesraan. Tak sengaja tatapanku dan Shanty bertemu. Percakapan mereka terdengar olehku karena jarak kami yang tak terlalu jauh. "Jo, kamu benar – benar mencintaiku?" "Iya dong Shanty ku sayang." "Aku perlu bukti." "Bukti apa?" "Cium aku …" Sepertinya Shanty sengaja melakukan ini. Aku terkejut bukan kepalang. Hatiku kembali tersayat. Luka yang belum kering di dalam hatiku ini kini kembali tergores. Seakan membuka luka lama dan bahkan menyakitinya lebih lagi.
Jo terlihat tak begitu terkejut. Aku semakin sakit hati karenanya. Tampak Jo mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Shanty. Dan jarak wajah mereka semakin mendekat. Hingga saat mereka akan berciuman tiba – tiba Sony menarik tanganku hingga aku tak sengaja berciuman dengan Sony. Aku terkejut dan aku segera melepaskan ciuman itu. Namun hatiku sudah terlampau hancur. Air mata kembali tumpah dengan derasnya dari mataku. Kepalaku serasa berputar. Air hujan pun mulai turun dari langit dan semakin lama semakin deras. Yang dapat kulakukan hanya berlari sekuat mungkin. Aku pun tak tahu aku berlari kemana. Hujan yang mengguyur tubuhku tak terasa. Aku hanya merasakan hati yang yang terlampau hancur. Dadaku terasa amat sesak hingga akhirnya aku jatuh terjerembap di akar pepohonan. Sony segera datang membopongku. Tetapi untuk berdiri saja aku tak mampu.
Air mataku tak berhenti mengalir. Aku pun jatuh ke dalam pelukan Sony. Hangatnya pelukan ini tak mampu meredam dinginnya lautan es hatiku. "Semuanya akan baik – baik aja Rean, tenanglah. Mulai saat ini aku akan menjagamu dan takkan kubiarkan orang lain menyakitimu lebih dari ini. Walaupun aku tahu hatimu masih terluka karena Jonny, tapi ketahuilah Rean, aku akan selalu berada di belakangmu mulai saat ini sampai kapanpun."

Semenjak saat itu aku selalu bersama Sony. Ia menepati janjinya dan selalu menjagaku. Aku sudah mulai bisa melupakan Jo dan tidak memperdulikannya lagi. Aku biarkan Jo menjadi bagian dari kenangan masa laluku dan membiarkan Sony menjadi masa depanku. Aku sadar bahwa masa lalu takkan pernah bisa terulang dan masa lalu itu dapat kugunakan untuk memperbaiki dan menata masa depanku hingga lebih baik dari sebelumnya. Dan akhirnya pacarku jadi sahabatku, sahabatku jadi musushku, musuhku jadi temanku, dan temanku menjadi pacarku. Siklus cinta yang memberi 1 langkah tuk mendewasakan diriku.

Cerpen ini dikirim oleh :
  • Nama : Jessica Febrina
  • Email : jeszlhw@yahoo.com
  • Twitter : @jeszlhw

Rating : 5

irongman - 23.51

Kamis, 14 Februari 2013

Cerpen Cinta : Shane, I love you

Kamis, 14 Februari 2013

Cerpen Cinta Shane I Love You

Cerpen Cinta : Shane, I love you


Cerpen Cinta. "Britney sayang, liat sini dong" ucap Shane sambil menyorotkan handycam baru kepadaku. "Udahlah Shane, aku sedang malas untuk bermain-main, pergilah !!!" jawabku sambil menepis handycam itu. Aku merasa sangat kesal dengan ulahnya. Aku tau dia begini supaya aku bahagia. Tapi semua itu sia - sia. "Lihatlah wajah pacar kesayanganku ini. Jelek sekali ya. Andai saja dia tertawa, pasti dia sangat cantik". Aku menoleh ke arahnya dengan ekspresi tak tertarik. Rupanya dia sedang merekam dirinya sendiri. Aku semakin tak berminat dengan apa yang di lakukannya. Lalu tampak ia meyorotkan kembali handycamnya ke arahku. "Lihat, jelek sekali bukan wajahnya, seperti baju yang belum di setrika.""Sudahlah Shane jangan terus menggangguku !" bentakku seraya beranjak menuju kamarku. Aku melirik ke belakang dan berharap dia mengikutiku. Tapi ternyata dia sama sekali tak mengikutiku. Ku banting pintu keras - keras berharap dia mengerti bahwa aku amat kesal kepadanya.

Semua kekesalan dan kesedihanku berawal sejak ke - dua orang tua ku meninggal lima bulan yang lalu. Hidupku terasa tiada berarti lagi. Aku ingin sekali ikut mereka pergi. Tapi pada kenyataannya aku tak mampu. Selama lima bulan ini hidupku terasa hampa. Aku harusnya kuliah saat ini, tapi aku pikir dari pada aku tidak fokus terhadap mata pelajaran yang ada di kampusku dan selalu memikirkan kedua orang tuaku, lebih baik aku putuskan untuk berdiam diri di rumah. Shane yang harusnya kuliah, tapi demi aku yang sudah menjadi pacarnya hampir dua tahun pun memilih untuk selalu mendampingiku dan tidak kuliah. Dalam lima bulan terakhir ini dia selalu berusaha membuat aku kembali ceria seperti dulu. Tapi semua itu sia – sia. Aku tetap sedih dengan meninggalnya orang tuaku.

Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu. "Biar aku yang membukakannya sayang …" Aku yang baru selesai keluar dari kamar mandi pun mendengar sedikit perbincangan antara Shane dan tamu yang datang, aku pun menyusul Shane di depan pintu. "Siapa tamunya Shane?""Maaf apakah Anda yang bernama Britney Huston?" tanya seorang bapak - bapak berjaket kulit hitam dengan kumis yang amat tebal dan raut wajah yang sangar. Aku bergidik ngeri melihatnya. "Ya, saya sendiri. Bapak ini siapa ya?" jawabku. "Kami dari pihak bank ingin memberitahukan bahwa ayah anda, Jack Huston memiliki hutang sebesar 1 milliar rupiah. Waktu untuk membayar tinggal 3 hari lagi dan apabila tidak di lunasi maka rumah beserta isinya akan kami sita. Ini surat bukti – buktinya," ucap seorang dari mereka. Aku terkejut bukan kepalang. Bagai di sambar petir, tubuhku lemas seketika. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku pun tak mampu untuk berpikir. Aku langsung berlari ke kamar dengan menatap foto ayah dan ibuku sehingga membuatku menangis terus menerus. Aku tak tahu harus marah, sedih atau apa, yang jelas aku tak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan uang 1 milliar dalam waktu 3 hari. Tiba - tiba Shane memelukku dan menenangkanku. Aku pun menangis dalam pelukkannya.

"Mau kemana sayang?" cegah Shane saat melihatku yang sudah berpakaian rapid an siap untuk pergi. Ia melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin dia terkejut dengan sackdress mini dan ketat yang aku gunakan. Ya, aku memang memutuskan untuk clubbing di salah satu diskotik bersama Lolly dan teman – temanku yang lain. "Bukan urusanmu!" jawabku singkat. "Ini sudah jam 10 malam Britney. Kamu mau pergi kemana malam – malam dengan pakaian seperti itu?" tanyanya penuh selidik. "Terserah aku dong mau pergi kemana? Hidup juga hidupku, jangan ikut campur deh! Kepo banget sih?" bentakku sambil menatapnya. "Hey Britney, udah siap? Anak – anak udah nungguin kita di Night Club tuh" ujar Lolly yang tiba – tiba muncul di ambang pintu. "Apa? Kamu mau ke club? Sayang jangan pergi. Kamu tidak perlu pergi ke sana!" sergah Shane. "Udah la Shane, ini bukan urusanmu!" "Gak Britney, kamu gak boleh pergi. Aku tau kamu begini akibat hutang itu kan? Tapi kita bisa cari jalan keluarnya. Kamu harus menuruti apa kataku, aku ini pacarmu." "Jangan sok ngatur deh Shane! Dan jangan sok tahu tentang perasaanku. Kamu pacarku, bukan berarti aku harus menuruti apa katamu dong?!" jawabku kesal.
Aku paling gak suka dengan sikap Shaen yang overprotective. Ya, memang dia gak sepenuhnya salah. Aku ke club karena ingin menghibur diriku. "Sayang, selama ini aku rela gak kuliah demi kamu, supaya aku bisa mendampingi kamu. Kenapa kamu tidak pernah menghargai itu semua?""Aku gak pernah meminta kamu untuk menemaniku kan? Terserah kamu lah!" jawabku seraya berjalan menuju Lolly. Dengan berat hati, aku pergi meninggalkan rumah dan Shane yang speechless dengan tingkahku.

Bipp bipp bipp, handphoneku berbunyi. Sebenarnya aku malas mengangkatnya karena aku masih bersenang – senang dengan teman – temanku. Tapi akhirnya aku tetap mengangkat telepon itu. "Halo, siapa ya? Halo?" jawabku. Tapi aku tidak mampu mendengarnya karena dentuman lagu diskotik yang sangat keras. Aku memutuskan untuk pergi ke toilet. "Halo? Siapa ini?""Halo, apakah ini dengan Britney?" jawab seorang wanita. "Ya benar. Ini siapa?""Saya suster dari rumah sakit Pelita Jaya. Saya ingin memberitahu Anda tentang pasien yang bernama Shane telah mengalami kecelakaan dan sedang dalam keadaan kritis.""Apa?" akau sangat terkejut. Aku pun segera berlari menuju rumah sakit. Tak ku pedulikan Lolly yang bertanya kepadaku mengapa aku pergi. Yang ada di pikiranku hanyalah aku ingin segera menemui Shaen. Air mata mulai menetes dari mataku. Muncul rasa penyesalan mengingat apa yang kulakukan terhadap Shane.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menanyakan keberadaan Shane kepada salah satu suster di sana. Tiba – tiba aku melihat Shane yang terkulai lemah di ranjang rumah sakit dan sedang didorong oleh beberapa suster. Aku segera berlari menghampirinya. Aku menangis melihat wajah dan sekujur tubuh Shane yang masih berlumuran darah. "Shane, ada apa ini? Kenapa kamu bisa seperti ini?""Maaf mbak, pasien harus segera dibawa ke ruang ICU," ucap salah seorang suster. "Tidak apa – apa suster. Tolong berhenti di sini" jawb Shane seraya menggenggam tanganku. Aku pun ikut menggenggam tanganku. "Britneyku sayang, aku tidak apa – apa. Hanya saja tadi saat aku mengejarmu, aku tertabrak moil. Aku lengah dan tidak memperhatikan sekitar. Sayang, ini ada hadiah terakhir untukmu. Terima kasih karena kamu telah mengisi hatiku selama hidupku ini. Kemarilah …" ujar Shane sembari memberiku sebuah amplop, lau mengisyaratkan aku untuk memeluknya. Aku pun memeluknya dengan erat.
"Shane, maafkan aku. Aku sangat menyesal dengan apa yang selama ini kulakukan untukmu. Shane, i love you. Aku tidak mau kehilangan orang sepertimu.""It’s okay sayang", jawab Shane seraya melepas pelukanku dan mengecup keningku. Aku pun kembali memeluknya yang dibalas oleh pelukannya. "Kalau memang kamu mencintaiku, hanya satu pintaku. Perbaiki dan lanjutkanlah hidupmu, wala tanpaku. I love you too my Britney." Seketika pelukan Shane melemah dan tangannya terjatuh. Ia sudah tiada. Aku memeluk Shane dan menangis sejadi – jadinya. "Shane, jangan pergi …"

Setelah pemakaman Shane, aku kembali ke rumah. Aku pun teringat dengan amplop yang diberikan oleh Shane sesaat sebelum ia tiada. Aku pun mengambil amplop itu dan membukanya. Ada sebuah kertas cek 1 milyar dan sepucuk surat. Aku buka surat itu.
Britney sayang, saat kamu membaca surat ini, pasti aku sudah tidak lagi berada disisimu. Maafkan aku karena aku sudah tidak bisa menjagamu lagi. Itu ada cek sebesar 1 milyar untuk membayar hutang ayahmu. Itu sebenarnya merupakan tabunganku yang ingin aku gunakan untuk pernikahan kita. Tapi takdir berkata lain, anggap saja itu sebagai hadiah terakhir dariku. Sayang, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu sampai kapanpun. Dan kalau kamu merasakan hal yang sama, aku mohon agar kamu mampu melanjutkan hidupmu. Jangan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan. Ingatlah sayang, aku selalu mecintaimu, walau kita berada dalam alam yang berbeda. I love you my Britney.
From
Shane
Air mata kembali membasahi pipiku. Aku baru sadar betapa Shane mencintaiku dengan segenap hatinya. Aku menyesal karena telah menyia – nyiakan cintanya. Shane, aku berjanji aku akan melanjutkan hidupku. Aku berharap, di sana kamu akan tersenyum melihatku. Shane, I love you.


Rating : 4

Cerpen ini dikirim oleh :
  • Nama : Jessica Febrina
  • Email : jeszlhw@yahoo.com
  • Twitter : @jeszlhw

irongman - 00.57

Rabu, 30 Januari 2013

Cerpen Nasi Bungkus Untuk Dita

Rabu, 30 Januari 2013

Nasi Bungkus Untuk Dita


Aku tak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi mencoba untuk selalu berusaha untuk dapat mencapainya. Walau banyak keterbatasan tapi tidak aku jadikan keterbatasan sebagai alasan. Hidup ku hanya bergantung pada Payung dan Hujan, Kecrek dan Keramaian. Oya, namaku Dito, nama panjangku Dito Pratama. Umurku 11 tahun, aku berasal dari keluarga yang sederhana. Ayah ku menderita kelumpuhan sekitar 2 tahun yang lalu, sedangkan Ibu, Ibu ku sudah lama meninggal saat aku duduk di kelas 1 SD, Ibu meninggal Dunia saat berusaha melahirkan adik ku yang sekarang ini dia berusia 5 tahun dan dia bernama Dita Dwi Permata.

Ilustrasi Cerpen Nasi Bungkus Untuk Dita
Keadaan yang memaksa aku untuk menjadi tulang punggung di keluargaku. Pagi ini seperti biasa aku bangunkan Ayah dan Dita untuk shalat berjamaah. Kulihat begitu lelapnya Ayah dan Dita tidur, raut wajah Ayah yang lusuh membuat aku semakin semangat untuk selalu bisa membuat mereka bahagia, Dita dan Ayah tidur hanya di beralaskan kardus dan tikar yang ku beli sebulan yang lalu dari hasil celengan, dan berselimutkan sarung yang Ibu gunakan dulu saat melahirkan Dita Adik ku. "Yahhhh,,, bangun yuk, udah masuk waktunya shalat subuh yah !"
"Dik,, Bangun yuk sayang, kita shalat berjamaah, sebentar lagi waktu nya habis dik".
Kata ku sambil ku elus-elus kaki Ayah dan Dita.
"Iya nak, mari kita berjamaah, bangunkan Adik mu untuk segera bangun dan ambil air wudhu". jawab ayah. Dan aku coba bangunkan Dita sekali lagi.
"Dik bangun, ayo berjamaah".
"Emmmmmmm,,, aku masih ngantuk ka" Jawab Dita malas. "Dik kita shalat gak sampai 1 jam kok, sehabis shalat baru lah kamu lanjutkan tidur mu". sambungku, sambil ku buka sarung yang melekat di tubuh bocah kecil itu.
Dengan malas Dita pun bangun dan ikut berjamaah dengan Ayah dan Aku, setelah shalat selesai, di pertengahan do’a Aku meminta dan memohon pada Allah agar diberikan kemudahan untuk semua kesulitan ku, diberikan keberkahan dalam setiap langkah kaki ku, dan dimudahkan rejeki untuk menghidupi Ayah dan Adik ku. Oya, Aku tinggal disebuah gubuk sederhana tepatnya di bawah salah satu jembatan di Jakarta. Tempat ini yang orangtua ku tempati dari sejak sebelum aku dilahirkan. Dan aku belajr di sebuah sekolah khusu anak jalanan, dan yang mendirikan sekolah ini adalah para mahasiswa yang peduli akan nasib anak jalanan, tempatnya tak jauh dari rumah ku, sekolah itu belum lam berdiri, tempatnya terbuka yang masih menyatu dengan lingkunga. Meja dan peralatan sekolah mereka berikan Cuma-Cuma pada kami. kakak-kakak mahasiswa yang kami sebut sebagai guru sangan baik. Aku dan teman-teman ku sangat nyaman dan senang berad di tempat itu.

Jam sudah menunjukan pukul 09:00 waktunya aku berngkat sekolah. "Yah,, Dito berangkat ke sekolah yah"" sambil ku ulurkan tangan ku pada ayah dank u cium tangan nya.
"Iya Nak, kamu baik-baik disana ya, jangan nakal, hormati orang yang lebih tua dari mu, belajar yang bener perbaiki nasib kita, berikan contoh baik pada Adik mu" jelas Ayah. Mendengar ayah mengatakan hal itu jantungku berdebuk cepat ambisi semakin memuncak, itu sebuah motifasi untuk ku.
"Baik Yah, ditto faham dan Dito mengerti apa yang Ayah maksud" jawab ku dengan suara bergetar.
"Kak Dito pulang nya bawa makan untuk Dita dan Ayah ya" pinta Dita polos.
"Iya Dik insya Allah Kakak bawakan makan, mudah-mudahan ada rejeki untuk kita hari ini ya, dan kakak pesan pada mu jaga Ayah, Kakak gak akan lama kok".
"Iya kakak oke deh" jawab Dita tegas.
"Assalamualaikum" Aku pamit.
"Waalaikum salam hati-hati ya" jawab Ayah dan Dita

Sesampainya di sekolah ternyata teman-teman ku sudah banyak yang datang hanya aku yang belum datang, hari ini tidak biasanya Guru kami belum datang.
"ini belum masuk Farid ?" Tanya ku pada Farid teman ku.
"Belum nampaknya To, mungkin ada keperluan kampus kali" jawab Farid.
"oh, iya mungkin ya", sambil menunggu guru datang aku dan teman-teman belajar apa yang sudah di berikan oleh guru kami. sekitar pukul 09:30 barulah guru kami datang. Oya, Guru ku hari ini adalah Kak Rini, beliau masih berumur 19 Tahun, beliau adalah guru termuda kami, Cantik, Baik dan bersahaja.
"Assalamualaikum Adik-Adik ?".
"Waalakumsalam Kakak guru Rini", serentak kami menjawab salam nya.
"Aduhh, Kakak minta maaf ya, kakak telat, soalnya tadi ada kepentingan di kampus yang gak bisa kaka tinggalin adik-adik" Jelas Kak Rini.
Farid membisiki ku "tuh kan apa yang aku bilang tadi", "Iya Rid benar" jawab ku.
"Ayo adik-adik ayo mulai belajar kita, materi hari ini kakak ingin tahu cita-cita kalian dan dan motifasfi kalian, semua ditulis yang rapi ya, nanti dibacakan se orang-seorang ke depan"
"Baik kakak guru" semua murid serempak menjawab
"Ada yang di tanyakan untuk hal ini"
"Kak sebanyak apa ?" Tanya salah satu teman ku.
"Sebanyak Cita-Cita mu dan sebanyak motifasi mu Dik Iyas" jawab kakak Rini lembut.
Semua murid terlihat antususias menanggapi tugas ini. dan aku menuliskan cita-cita dan motifasi ku :
Ayah, Ayah kini telah menjalankan ujian yang Allah berikan padanya,
Ibu pun telah pergi menghadap padanya yang maha kuasa,
Adik ku masih berumur 5 tahun, sering sekali Dita menanyakan Ibu pada ku dan Ayah, jawaban Ayah dan aku sama Ibu pergi jauh dik, dia sudah di surga.
Mereka yang terpenting dalam hidup ku, mereka semangat ku, mereka nafas ku, mereka raga ku dan mereka denyut nadi ku. Semua keadaan ini patut aku syukuri, bersyukur masih dapat menikmati indahnya kebersamaan, menatap senyum yang terpancar dari orang-orang yang ku sayang saja sangat membuat ku senang. Kebersamaan yang sederhana ini semoga selalu hdir dan temani setiap hari-hari ku. Dari kesederhanaan ini banyak menciptakan hal-hal positif, dan memotifasiku semakin yakin, kalau nasib masih bisa di rubah. Dari keterbatasan factor ekonomi aku dapat menjad seorang yang mandiri, Kreatif, Kritis, disiplin dan taan kepada perintah allah.
Cita-Cita ku dari kecil adalah, aku ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses dan lancer, mejnadi bisnis man, yang dapat menciptakan banyak lapangan kerja, karna aku rasa penagngguran di jaman modern ini semakin banyak, agar tidak adalagi kriminalitas dan pengangguran. Dan aku selalu ingat nasihat yang Kakak guru berikan padaku yaitu "Berusaha untuk tidak menghitung kesulitan, karna jika terlalu sering menhitungnya, kemudahan akan terasa biasa saja".
Semua murid diminta unutk membacakan hasil tulisan mereka ke depan, setelah semua murid telah membacakan tulisan nya, giliran Dito.
"Dito, sekarang giliran kamu membacakan tulisan mu kedepan" perintah Kakak Guru.
karna sebelumnya aku belum pernah maju kedepan untuk membacakan tulisan ku, badan ku terasa panas dingin, jalan ku pun tak karuan, keringat bercucuran, dan lebih parahnya tangan ku bergetar saat membacakan tulisan nya. Kakak Guru melontarkan senyuman yang membuatku sedikit tenang.
"Dito, Luarbiasa sekali, tulisan dan cerita kamu sangat bagus, Kakak suka. Kamu cerdas" Kakak Guru mengacungkan jempol.
"Terimaksih kak". Jawab ku.
Pelajaran hari ini sudah selesai.
"Adik-adik belajar hari ini kita sudahi sampai sini saja ya, esok Kakak Singgih yang akan mengisi kegiatan belajar kalian, karna besok Kakak ada jam masuk kuliah!" jelas Kak Rini.
"Iya Kakak Guru Rini" Serempak murid menjawab penjelasan Kak Rini.
Semua murid meninggalkan tempat itu, dan Kak Rini juga. Dan aku hamper lupa, kalau Dita berpesan ingin dibelikan makan. Berbekal kecrek aku pergi ke jalanan ke tempat keramaian, dam banyak ku habiskan waktu ku di lampu merah. ku datangi setiap mobil yang menunggu lampu hijau menyala. Lirik demi lirik ku lantunkan, hingga perut terasa sangat perih. kulihat penghasilan ku saat ini, hasilnya lumayan. kusudahi mengamen hari ini, ini cukup untuk ku belikan nasi bungkus untuk Dita dan Ayah.
"Assalamualaikum ?"
"Waalaikum salam" Dita menjawab salam ku sambil berlari dan segera memeluk ku.
"Kak, mana nasi bungkusnya ?"
"Yahhh, kakak lupa dik"
"Yah kakak, padahal aku laper kak dari pagi belum makan apa-apa sama Ayah" Rengek Dita yang kecewa.
Ayah menangis melihat percakapan kita ber dua, entah apa yang membuat ayah menangis. "Dik kakak mu kan pulang sekolah bukan pulang bekerja" ayah menjelaskan pada Dita.
"Tapi kan Dita laper yah"
"Sudah-sudah, ini Dik kakak belikan kok kamu nasi bungkus". sambil ku keluarkan 2 bungkus nasi bungkus.
"iiiiiih kakak ini" Dita senang bercampur kesal.
"Haaha, kakak sengaja bikin kamu kesel dulu biar nanti makan nya lahap, sudah jangan nangis ih jelek kamu ini dik, ayo makan nasinya".
"Baik kak"
"Dito, dapat uang dari mana kamu?" Tanya ayah heran.
"Dito tadi mengamen yah, tenang uang itu halal kok yah, Dito tidak mencuri." jals ku sambil ku cium tangan ayah.
"Sykur lah, Ayah tidak mau kamu menjadi anak yang bandel ya To, ingat itu, kita orang miskin jangan kamu tambah kan penderitaan kita".
"Iya Ayah Dito mengerti, Dito tidak akan seperti itu, Ayah percaya sama ditto ya"
"Iya Ayah percaya sama kamu deh".
Dan Aku Dita dan Ayah makan dengan sangat lahap nya.

Selesai

Rating : 3

Cerpen ini dikirim oleh :
  • Nama : Irna Melati
  • Email : Irnamelati@rocketmail.com
  • Facebook : Irna Melati

irongman - 22.17